Archive forUncategorized

Tari Jawa Tengah

Melalui keberadaan Suku Sunda, citarasa budaya Jawa Barat menjadi cukup berbeda dengan wilayah lain di Pulau Jawa. Parahyangan atau Priangan sebagai pusat kebudayaan Sunda merupakan tempat lahir beragam kesenian, termasuk tari-tarian.

Di samping itu, produk budaya di Jawa Barat juga diperkaya oleh uniknya kebudayaan Cirebon. Secara geografis sangat memungkinkan persilangan budaya di wilayah ini. Selain dua kekuatan kultural, Jawa dan Sunda, akulturasi dengan budaya Arab, Cina dan India juga dimungkinkan.

Tari Jawa Tengah

Wayang Golek dan Angklung merupakan contoh seni identitas budaya Jawa Barat yang telah mendunia. Selain dua kesenian tersebut, kebudayaan Jawa Barat juga mencakup banyak tarian tradisional. Beberapa tari tradisional Jawa Barat telah tersaji dalam daftar di bawah ini. Baca Juga: Tari Tradisional Jawa Barat

Ketuk Tilu adalah tarian khas Jawa Barat yang di masa awal diduga kuat sebagai sarana ritual penyambutan panen padi. Seiring perkembangannya, banyak perubahan pada fungsi dan bentuknya hingga menjadi tarian pergaulan yang berfungsi hanya sebagai hiburan.

Perihal namanya, istilah Ketuk Tilu merujuk pada 3 buah ketuk (bonang) sebagai pengiring utama yang menghadirkan pola irama rebab. Ada juga dua kendang, indung (besar) dan kulanter (kecil) yang berfungsi mengatur dinamika tari dengan iringan kecrek dan gong.

Tari Jaipong adalah salah satu tarian daerah Jawa Barat yang cukup populer di Indonesia. Jaipongan merupakan gabungan dari Pencak Silat, Wayang Golek, Topeng Banjet, Tarian Ketuk Tilu serta beberapa elemen seni tradisi lain di Karawang, Jawa Barat. Baca Juga: Tari Sunda

Kesenian tari yang menjadi salah satu identitas kesenian Jawa Barat ini termasuk tari pergaulan tradisional. Sejak H. Suanda pada mengkreasikan tari ini pada kisaran 1976, tarian ini berkembang pesat seiring besarnya apresiasi masyarakat Karawang dan sekitarnya.

Tari ini termasuk dalam genre tari perang dengan filosofi yang cukup dalam bagi masyarakat Bungko, tentang totalitas kehidupan komunal yang demokratis. Tarian ini berkaitan dengan sejarah mereka yang berhasil mematahkan serangan dari pasukan Pangeran Pekik.

Tari Keurseus adalah tari tradisional Jawa Barat yang awalnya merupakan tari tayub yaitu tarian yang penarinya adalah para menak (pejabat). Penyususn tarian ini adalah R. Sambas Wirakoesoemah, lurah Rancaekek (Bandung) tahun 1915-1920 dan 1926-1935. Baca Juga: Tari Tradisional Sumatera Utara

Tari Tayub dulunya dilakukan oleh para penari yang terpengaruh minuman keras, sehingga mereka menari tanpa ada gerakan dasar. Dengan tujuan untuk menata budi para menak maka R. Sambas Wirakoesoemah mendirikan perguruan tari dan menyusun kembali tari tersebut.

Tari Buyung merupakan satu di antara tarian tradisional Jawa Barat yang biasanya tampil dalam memeriahkan upacara Seren Taun, upacara panen padi khas Jawa Barat. Tarian ini tercipta tahun 1969 oleh Emalia Djatikusumah, istri dari seorang sesepuh adat, Pangeran Djatikusumah.

Buyung merupakan istilah yang biasa untuk menyebut tempat air yang terbuat dari tanah liat. Dalam tarian ini, penari akan menari di atas kendi, sementara di kepalanya ada buyung yang tidak boleh sampai jatuh. Biasanya penarinya adalah 12 penari perempuan berkebaya. Baca Juga: Tari Tradisional Sumatera Tengah

Comments